ANALISIS KEBIJAKAN UNTUK DEMOKRASI
Oleh
: Feri Ika Sudarsono, S.Pd. (Mahasiswa S-2 MIP UWKS)
Perubahan
paradigma masyarakat luas tentang kebijakan umum telah berubah. Dunia, dan
termasuk Amerika yang pernah melakukan kebijakan kontemporer dengan konsep feodalisme,
sentralisasi kebijakan. Saat ini seluruh
dunia, dengan perkembangan poltik dunia yang berasaskan demokrasi menggunakan
kebijakan modern yang lebih demokratis,
akuntable, dan transparan.
Kebijakan
demokrasi yang digunakan adalah kebijakan yang lebih mementingkan pada hasil
penilaian umum masyarakat (uji public) sebelum kebijakan itu menjadi kebijakan
umum. Hal ini yang menjadi sangat penting dimana masyarakat, atau warga sebagai
subyek memiliki peran yang sama sebagai warga Negara untuk menyesaikan suatu
masalah dalam hak dan kewajibannya. Warga atau masyarakat terlibat langsung
dalam dukungan dan keterlibatanya secara positif dalam pelaksanaan dan
pertanggungjawabannya.
Konsep
kebijakan ini tentu akan berimbas pada hilangnya rasa kepercayaan warga atas
pemerintah yang telah ditunjuk, namun itulah demokrasi bahwa masyarakat adalah
subyek sesungguhnya untuk menentukan kebijakan itu. Dengan konsep keterbukaan
ini, tentunya pemerintah membutuhkan ruang public yang cukup untuk bisa
memberikan control dan koreksi dari masyarakat agar kebijakan ini mampu
diterjemahkan secara utuh oleh masyarakat. Peran media, forum terbuka, dan
sosialisasi menjadi sangat berperan.
Kebijakan public di Amerika bukan
sekedar hanya untuk kebijakan pelayanan dan tujuan kebijakan. Masyarakat juga
menuntut bagaimana tata laksana kebijakan itu, masyarakat diuntungkan atau
dirugikankah, ada beban tidak, bagaimana sifat kebijakan itu dan bagaiman
pelaksana kebijakan itu, itulah pertanyaan ketika kebijakan itu hendak
dilaksanakan, dan itulah demokrasi.
Kebijakan
dalam demokrasi perlu dukungan, partisipasi aktif masyarakat, dan mendorong
kerjasama masyarakat menyelesaikan
masalah. Ini adalah pola kebijakan demokrasi, namun apakah apakah masih efektif
dan efisienkah kebijakan public dengan demokrasi. Dalam kebijakan demokratis
akuntabilitas sangat menjadi sangat penting, karena masyarakat menjadi sangat
penting untuk terlibat langsung dalam memegang akuntabel struktur pemerintahan.
Kebijakan demokrasi seperti gambaran diatas memerlukan akuntable kebijakan
dengan transparansi dan profesionalisme
Namun
sungguh berlaku bagi suatu Negara yang sudah secara mapan dan dewasa dalam
berpolitik dan bernegara. Di Amerika sendiri ketika kebijakan itu berada di
ruang lingkup yang negative maka kebijakan itu menjadi negative. Hal ini yang
ditakutkan ketika kebijakan itu berdasar pada suara mayoritas dan pertimbangan ke-umum-an. Artinya peran
kekutan kelompok social masyarakat menjadi sangat dominan dalam penentuan
kebijakan. Hal inilah kadang yang menjadi kekhawatiran masyarakat ketika
kebijakan itu dilahirkan.
Secara
konsep demokrasi bahwa kebijakan public haruslah kebijakan yang berpihak pada
masyarakat. Namun jika masyarakat melalui kelompok memaksakan kepentingan akan
terjadi arogansi kepentingan dalam penentuan kebijakan. Karena demokrasi
memberikan ruang yang luas untuk berperan aktif. Sehingga konflik kepentingan
akan semakin terbuka. Disinilah nilai musyawarah untuk mufakat sesuai dengan
pancasila menjadi tidak diperlukan.
Perlu
digaris bawahi konsep kebijakan demokrasi yang berakar dari masyarakat sangat
memungkinkan jika semua alat penunjang itu ada. Akses informasi masyarakat
terbuka luas, kritik konstruktif menjadi kaidah peran aktifnya. Yang jelas
pemahaman akuntabilitas, transparansi dan profesianalisme menjadi semangat
bersama untuk membangun pijakan awal nilai kebijakan demokrasi.
Kebijakan
demokrasi amerika masih rancu, antara rakyat sebagai subyek dengan kebijakan
parlemen. Jika dianalisa dalam buku ini maka kebijakan demokrasi yang dilakukan
adalah kebijakan kebebasan, dimana
siapapun selama mereka masih masyarakat berhak dan wajib menetukan kebijakan
itu. Sehingga jika dipikir ini kebijakan liberal atau aplikasi kebijakan
demokrasi. Ketika suatu kebijakan tidak menguntungkan suatu kelompok dan
kelompok itu terbesar. Kebebasan inilah yang semakin membuka ruang public
menjadi sangat tidak demokratis. Bagiamana tidak, artinya masyarakat penguasa
itulah yang bisa menentukan kebijakan public apapun. Hal ini menjadi sangat
tidak etis dan riskan dalam bernegara, karena peran pemerintah menjadi tidak
bermakna. Artinya pemerintah hanya sebagai peng-ide, penerjemah kejadian, namun
penentuan terahir kebijakan ada ditangan masyarakat terbesar. Karena masyarakat
juga punya hak dan kewajiban yang sama untuk menyelesaikam masalah kebijakan
public di sekitarnya.
Analisa
Kebijakan umum menurut demokrasi baik jika disesuaikan dengan situasi dan
kondisi sekitar kebijakan itu. Jika dalam uji kebijakan public dilakukan kepada
masyarakat umum sebagai subyek penentu, sangat baik selama pada koridor aturan
dan proporsinya. Dalam Negara yang sudah lama melaksanakan demokrasi saja uji kebijakan public masih perlu kajian. Dilihat dari efektifitas dan
efisiensi, dengan system ruang public yang terbuka luas masih mengalami eror
kebijakan. Factor kepentingan, kelompok
dan kekuatan menjadi penentu kebijakan itu. Kaum bisnis, sindikat , gangster,
dan mayoritas menjadi penentu kebijakan itu ditetapkan. Apaka itu demokrasi sesungguhnya.
Penerapan
analisis kebijakan yang demokratis, akutabilitas, transparansi, dan
profesionalisme, harus disesuaikan dengan kultur masyarakat dan ideology
masyarakat tersebut. Secara teori dan pengetahuan untuk uji kebijakan denga
demokrasi secara umum perlu kajian komperhensif dan mengakar yang disuaikan
dengan karakteristik perwilayah dan
ranah kebijakan. Tingkat efesiensi,
efektifitas dan alat pendukung menjadi tolak ukur bisakah itu dilakukan.
Analisa kebijakan dengan demokrasi tidak dapat dilakukan secara mutlak.
Pemerintah selaku pelaksana, pendorong dan penyeimbang kebijakan menjadi sangat komplek peranya.
Tentunya harapan setiap kebijakan akan memberikan dampak positif pada keadaan
yang lebih baik. Namun apakah keseimbangan informasi, agar analisa kebijakan
benar benar seimbang.
Disinilah
letak kepentingan berbicara. Analisa kebijakan dengan demokrasi perlu
dipertajam dengan nilai dan norma yang ada. Jika hal ini di kembangkan di
Indonesia maka pancasila dengan azas musyawarah mufakat tetap menjadi landasan
utama setiap kebijakan. Ada beberapa kebijakan yang memang perlu di lakukan
dengan demokratis tapi wibawa pemerintah tetap terjaga. Masyarakat harus
bermusyawarah untuk mufakat, bukan sesuai dengan jumlah suara masyarakat. Uji
public kebijakan demokrasi menjadi sangat tidak efiktif dan efisien jika
partisipasi masyarakat sedikit. Dan kebijakan itu akan menjadi awal untuk
terjadinya konflik masyarakat. uji
kebijakan public dengan demokrasi menjadi penguasa kebijakan baru bagi mayoritas.
Analisa
kebijakan melalui demokrasi memerlukan sosialisasi yang maksimal dan menyeluruh
dikarenakan jika analisa kebijakan tidak bisa adil maka akan berimbas pada
output kebijakan tersebut. Analisa kebijakan melalui demokrasi akan
mencerminkan karakteristik dan strata social yang ada di dalam masyarakat
tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar